Alkisah: Si Serakah & Spiritual Marketer

Alkisah di sebuah kota kecil, ada sebuah restoran yang sangat ramai sekali. Namanya Restoran Bapak Lale. Saking ramainya banyak yang antri untuk sekedar makan siang.

Setiap hari ada seorang anak yang sederhana sering lewat di dekat restoran itu.
Dia selalu bermimpi untuk makan dan menikmati makanan yang ada di restoran Bapak Lale.
Namun dia sadar, uang  jajan yang diterimanya dari orang tuanya tidak akan mampu untuk membayar biaya makan di restoran.

Pada suatu hari, anak tersebut lewat di belakang restoran dan mencium aroma wangi dari balik restoran tersebut. Diapun merasakan nikmatnya wangi makanan yang bersumber dari masakan para koki.

Sesaat kemudian dia mengambil makanan yang dibawanya, sepotong roti mentega dari ibunya....
Anak itu sangat menikmati makan rotinya, sehingga seolah-olah dia memakan makanan yang ada di restoran mewah.

Setiap gigitan selalu dirasakan dan dinikmatinya...
Keesokan harinya, anak itu melakukan hal yang sama....
Mencium aroma masakan dan menikmati makanan roti yang dibawanya....
Roti yang sederhana dan memiliki rasa kosong serasa bernilai tinggi dan sangat nikmat dengan adanya aroma makanan dari restoran sebelahnya.

Hari itu, hari ketiga sang anak kembali duduk dan menikmati rotinya dengan mencium aroma makanan restoran.

Namun, tidak disangkanya pak Lale sang pemilik restoran Bapak Lale ternyata telah lama mengamatinya sejak dari awal.

Mengetahui ada seorang anak yang menikmati aroma makanannya yang lezat, beliau langsung marah dan naik pitam seolah-olah tidak rela ada yang menikmati aroma makanannya tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun.

Pemilik restoran pun memanggil sang anak.
“hei kamu yang makan disitu!”

Sang anakpun menoleh dan merasa senang dipanggil oleh sang pemilik restoran.

Sang anak menyangka dia akan diberikan makanan gratis, seperti  kebanyakan yang dilakukan para pemilik restoran yang baik hatinya.

Namun...apa yang dibayangkan,  malah terjadi  sebaliknya.

Si Pemilik dengan rasa marah berkata: “Hei...kamu ayo bayar sekarang!!!!”
“bayar apaan pak?”.....
“Mana mungkin saya membayar sedangkan saya tidak mengambil sesuatu makananpun dari restoran bapak?” Ucapnya.
“Dimanakah keadilan itu” gumamnya....

Tiba-tiba banyak orang datang berkerumun, ingin melihat apa yang sedang terjadi....antara seoang anak dan seorang pemilik restoran mewah.

Ada seseorang yang ingin tahu, bertanya: “apa yang telah dilakukan anak itu pak?”

Sang pemilik malah tambah marah dan berkata” Anak ini, dengan seenaknya telah mencium aroma restoran saya dan menikmatinya tanpa mau membayar!”....
Sambil menyuruh satpamnya untuk memaksa sang anak untuk segera membayarnya.

Mendengar hal itu, seseorang yang juga pengusaha yang ada disampingnya langsung menjawab: “ini uangnya 100.000 rupiah, saya yang bayar!!!”

Seketika itu pula, dengan gesit sang bapak Lale langsung ingin mengambil uang yang disodorkan sang pemilik usaha yang baik hati itu.

Namun tanpa disangkanya, dengan cepat sang pemilik usaha tiba-tiba menarik kembali uangnya.....
Si bapak Lale yang serakah, makin marah....

”Hei!!! ..... Apa-apaan ini?”

“Mengapa kau tarik kembali uangnya hah?”....

Si bapak Lalepun mencoba lagi, namun lagi-lagi gagal, dia tidak mendapatkan uang sang pengusaha.

Sang pengusahapun berkata: “memberikan uangnya?”.....

“Hmmmm tunggu dulu...."
"Bagaimana mungkin anak ini hanya mencium aroma makananmu dan dia harus membayarnya?....”

“Engkaupun hanya boleh mengendus dan mencium aroma uang ini saja...!!”

“Hanya itulah juga yang dilakukan oleh anak ini!”

Orang-orang yang ada di sekitarnyapun sontak tersenyum dan bertepuk tangan....
”iya...iya....betul sekali, ujar mereka serentak.

“Dia hanya mencium aroma makananmu, jadi kaupun boleh mencium aroma uangnya”

Bapak Lale yang serakah inipun kebingungan.....

Dan sang anakpun sangat senang, dan tak terasa meneteslah airmatanya tanda haru karena terbebas dari masalahnya, sambil tak lupa berterima kasih kepada Sang Spiritual Marketer, pemilik usaha yang dengan ikhlas membantunya.....



Comments

Popular posts from this blog

Tempat Wisata Sehari di BSD City Serpong

Cara Memilih Rumah Tinggal di BSD

Kami Benci Film (ayat-ayat cinta) Indonesia?